Lets(!)talK
“Rama”
Sebuah ajakan bersalaman mengarah kepadaku, dengan senyum terkembang yang memang merupakan kebiasaanku, kusambut uluran tanganmu seraya berucap,
“Mayya”
“Jurusan apa may ?”
“Akuntansi”
“Sama”. Ucapmu kemudian mengakhiri perkenalan singkat kita.
Begitu mudah kita berkenalan. Saat itu kita masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa tingkat 1, masih cupu, masih sangat belia untuk ikut haus akan gelar “Eksis” di kampus. Hari itu adalah bukan kesalahan bagi kita untuk mengikuti sebuahrecruitmentsebuah organisasi kemahasiswaan tingkat pusat di kampus.
Recruitment itu menjadi awal pertemanan kita, awal dari sebuah hubungan yang seperti saling menyakiti dengan cara ‘unik’ yang tidak akan pernah kusesali. Mungkin karena kebaikanmu menyemangati aku saat akan diinterviewyang membuat kita menjadi teman akrab, atau mungkin karena kesatuan visi, atau mungkin karena faktor “X” yang tidak bisa didefinisikan secara gamblang. Hanya tuhan dan kita yang tahu.

Tuesday Wif Morrie—begitu biasa gue menyebutnya jika ingin merekomendasikan novel semi biografi ini kepada teman, sahabat bahkan kepada ibu saya. Novel ini menceritakan bagaimana Morrie (karakter dalam novel) menjalani minggu demi minggunya menghadapi kematian yang sudah di prediksikan oleh dokter untuknya. Tidak, ini bukan novel mengharu-biru seperti “Notes left Behind” diari milik elena, ini tentang bagaimana seorang Morrie Schwarts masih menularkan ilmunya (karena ia seorang dosen) kepada murid-teman-bahkan pengasuhnya.Sangat recomended sekali untuk dibaca. Jika ada yang berminat, silahkan kontak saya, akan saya pinjamkan untuk dibaca. :D
“Dengar ! ada yang perlu kau ketahui. Juga oleh semua orang muda lain. Jika kalian terus bersikeras melawan proses penuaan, kalian akan selalu merasa tidak bahagia, karena bagaimanapun itu akan terjadi.
Dan Mitch?” Morrie menurunkan suaranya.
“Yang jelas, pada akhirnya kita akan mati.”
Aku mengangguk.
“Tidak peduli apapun yang kita katakan dalam hati.”
Ya, aku tahu.
“Tapi mudah-mudahan, itu tidak terlalu lama”
(Mitch Albon dan Morrie)
(Source: anamrufisa, via kurniawangunadi)

